Saturday, June 14, 2014

RESENSI PUISI GURUKU IBUKU

RESENSI PUISI GURUKU IBUKU
KARYA ZA'IM YUSOFF
TERSIAR DI RUANGAN SANGGAR KREATIF
BERITA HARIAN AHAD, 11 MEI 2014
oleh Za'im Yusoff, Bintang Kartika, Syamil Khalis & Rasydan Fitri.

 

GURUKU IBUKU

Kutadahi kebenaran
dari kantung perbendaharaanmu
susu ilmumu nan segar
menyembuhkan sakit kejahilanku.

Aku bocah kegelapan
dikau kendong dan menyuap
aku tenang dalam dakap
dan membesar, dihidupkan.

Dikau guru, dikaulah ibu
rahimmu sabar mengandungkan
pucuk muda ribuan nama
yang bertumbuh, menuai nusa.

Seorang ibu melahirkan ibu
tak bisa berhenti
menyambung bakti.

Za'im Yusoff
Pinggiran Subang Jaya

--

PENGENALAN RESENSI

Saya percaya akan keperluan kepada syarahan kepada sesebuah karya kreatif terutama yang bernuansakan puisi dan seumpama dengannya sekiranya kita mahu mensasterakan masyarakat. Hal ini saya ada sentuh sedikit sebanyak dalam Ulasan Buku ITBM "Pantun Kisah Rasul Tercinta" tahun lalu. [1]

Masih terngiang di cecuping ketika berada di dalam kereta bersama Fahd Razy, Zaim Salimun, Amirul Hamudin dan Shahkang ketika Bengkel GKLN di Semenyih tidak lama dulu, setelah berbicara panjang lebar, kami menyimpulkan bahawa ya, puisi adalah karya yang dihadami masyarakat yang berminat pada pemikiran-pemikiran kelas tinggi. Darihal itulah, saya percaya pemikiran-pemikiran kelas tinggi sebegini haruslah diajar dan dikembangkan melalui apa jua medium sama ada wacana, sesi bedah seumpama resensi sebegini dan ulasan di media serta blog dan disebar-sebarkan agar masyarakat bisa belajar bagaimana memahami sesebuah karya khususnya puisi yang menghadami makna dan rasa melalui kata-kata terbaik dalam susunan yang terbaik mungkin.

Ini tidak pelik, ilmuwan Islam sejak zaman-berzaman khususnya para murid yang meriwayatkan syair-syair daripada para guru mereka sedaya upaya mensyarahkan dan menerangkan dengan terperinci maksud-maksud di sebalik bait-bait yang terkait di sebalik syair-syair yang dinukil pengarang-pengarangnya. Misalnya, Sharh Al-Mu'allaqat As-Sab', Sharh Diwan Hassan Bin Tsabit al-Ansori, Sharh Diwan al-Mutanabbi, Sharh Al-Qasidat Al-Khamriyah, Sharh Diwan Ibn al-Farid dan banyak lagi tidak tertulis di sini.

Justeru, saya berasa berbesar hati lantaran rakan-rakan penulis semisal Saudari Bintang Kartika, Saudara Syamil Khalis dan Saudara Rasydan Fitri sudi memberi sedikit sebanyak resensi yang indah yang ingin saya kongsi dengan rakan-rakan berkenaan puisi saya yang terbit di Berita Harian Ahad sebagaimana yang disebutkan di atas.

Secara keseluruhan, Saudara Rasydan memberikan resensi ringkas. Saudari Bintang Kartika pula membentangkan kedalaman makna. Cuma, yang paling mahal apabila Saudara Syamil Khalis berjaya menyingkap lapis-lapis makna yang sememangnya itulah yang diinginkan melalui isyarat-isyarat bagi mereka yang peka amat. 

Saya akui, puisi ini sederhana secara lahiriah kerana pembaca yang dituju ialah khalayak awam yang biasa. Namun, di sebalik kebiasaan puisi ini, ada rahsia yang saya sisipkan melalui permainan sintaksis dan susunan kekata bagi memberikan kepuasan kepada mereka yang ingin berfikir. Hal ini, berjaya dicungkil oleh Saudara Syamil Khalis dengan jayanya. 

Resensi ini mungkin sedikit panjang. Cuma insyaAllah ianya berguna bagi mereka yang ingin menggali manfaat insyaAllah. Tambahan, Saudari Bintang Kartika khususnya memanjangkan resensi dengan memperingatkan kita akan kuras-kuras firman yang suci dan kalam baginda Nabi solla Allahu 'alaihi wa aalihi wassalam yang mulia :)

Apapun, moga bermanfaat. Dan kalau karya kalian terbit insyaAllah saya suka memberikan resensi juga bagi berkongsi makna dan rasa yang indah daripada karya anda pula! :)

Yang Benar,
Za'im Yusoff


--

RESENSI RASYDAN FITRI

"Susunan rangkap baik. Ditutup juga dengan sangat baik pada baris melahirkan ibu lain.

Pemilihan diksi yang selari seperti kantung, susu - hal ini sangat membantu.

Secara keseluruhan, memang berkesan.

Dan berbeza dengan gaya-gaya Za'im Yusoff sebelum ini dalam bentuk peningkatan yang positif. Tahniah!"

RESENSI BINTANG KARTIKA (LIA) & SYAMIL KHALIS
 *Resensi mereka disekalikan memandangkan mereka memberikan resensi yang terperinci mengikut pendekatan larik-larik (baris-baris). Dibahagikan resensi mereka ini kepada bab-bab kecil bermula dengan pendahuluan resensi, rangkap pertama, rangkap kedua, rangkap ketiga dan rangkap keempat, ditutup dengan kesimpulan memasing. 

A) PENDAHULUAN RESENSI 

Kata Bintang Kartika :
  
Salam Mei nan barakah.

Bermula Hari Buruh, Hari Jururawat, Hari Ibu, Hari Keluarga dan Hari Guru yang diluncurkan pada rahim Mei, dan sangat kebetulan pula, Mei kali ini berada di bulan Rajab, di mana bulan Rajab adalah di antara bulan yang dihormati. Bulan Rajab mengandungi beberapa peristiwa bersejarah. Dikatakan pada bulan Rajab berlakunya peristiwa Isra', peperangan Tabuk, penaklukkan kembali kota al-Quds dari tangan tentera Salib oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Nah, terasa deep  ketika hari ibu juga hari guru menapak di Mei yang me-Rajab. 

Puisi yang sering memberi gemuruh jiwa, ledakan dada, cinta yang merahim adalah puisi ibu. Saat disua oleh penulis puisi 'GURUKU IBUKU' terasa tidak ada tarikan pada judul klise ini, seperti membaca judul dari puisi remaja cilik tahun enam yang baharu belajar membuat puisi. Nasib baik Lia kenal penulis ini yang pandai memporak-porandakan diksi sehingga menjadi begitu apik. *tarik blanket sebentar, gigil akibat demam kembali menerjah.

Puisi yang berjudul 'GURUKU IBUKU' terdiri dari empat stanza dan setiap stanza terdiri dari empat larik, kecuali pada bait terakhir, tiga larik. Sesuatu yang menjadi kebiasaan pada penulis yang satu ini ialah suka bermain dengan rima. Permainan rima yang terpantau pada akhir dan tengah larik dalam puisi ini jelas begitu teratur tak terpaksakan. Secara peribadi Lia sering kurang tersentuh bila puisi yang mengikat diri dengan rima, terasa tak bebas dan terpaksakan. Tapi puisi GURUKU IBUKU memberi 'feel' yang berbeda. *sejenak seduh milo panas sembari membersit hidung.

Parafrase puisi sudah terlihat dari judul "GURUKU IBUKU", persepsi pembaca akan berada dalam tiga sisi, ibuku (kandung) sekaligus ibuku adalah guruku, dan guruku adalah ibuku (guru sekolah). 

Kata Syamil Kalis :

Bentuk puisi ini ketat dan bermeter. Ini dapat dilihat pada rangkap pertama, 8-11-8-11, diikuti rangkap kedua, 8-8-8-8, diikuti pula dengan rangkap ketiga, 9-9-9-9. Mesej yang ingin disampaikan, telah berjaya disampaikan dengan kejelasan dan perlambangan yang berbicara kata-kata jujur, mengingatkan saya pada jasa-jasa ibu dan guru, yang sekiranya diperhatikan semula, jasa mereka teramatlah besar dalam memberi sumbangan kepada pembangunan diri seorang manusia, terutamanya, diri sendiri.

B) RESENSI RANGKAP PERTAMA

Kutadahi kebenaran
dari kantung perbendaharaanmu
susu ilmumu nan segar
menyembuhkan sakit kejahilanku.

*Yang dimaksudkan Syamil Khalis dengan 8-11-8-11 ialah perkiraan suku kata yang membentuk meter puisi.

Ku ta-da-hi ke-be-na-ran (8)
da-ri kan-tung per-ben-da-ha-ra-an-mu (11)
su-su il-mu-mu nan se-gar (8)
me-nyem-buh-kan sa-kit ke-ja-hi-lan-ku (11)

Kata Bintang Kartika :

Empat larik stanza pertama ini menjelma multitafsir. 

Larik pertama dan kedua begitu anggun kala menukilkan simbol 'kantung perbendaharaanmu' di sela kebenaran yang ditadah.

Kantung atau pundi-pundi, atau uncang, atau saku yang kebiasaannya ialah untuk menyimpan wang. Tapi maksud kantung di sini adalah tempat menyimpan ilmu, pengalaman dan segala macam hikmah.

Namun Lia ingin menapak lebih dalam mengertikan 'kantung perbendaharaanmu' ini.

Kelahiran manusia bermula ketika tertanamnya benih di rahim seorang ibu. Dari situlah pembentukan dan era manusia bermula.

Kantung menyimpulkan makna rahim, tempat menyimpan benih hasil persenyawaan manusia. Dan dari kantung rahim itulah segalanya ilmu terbina.

"Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari pati yang berasal dari tanah. Kemudian Kami jadikan pati itu setitis air benih, pada tempat penetapan yang kukuh. Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi sebuku darah beku lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa ketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa tulang, kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging. Setelah sempurna kejadian itu Kami bentuk ia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya. Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik baik Pencipta." - Maksud Quran surah Al-Mu'minun: 12, 13 & 14.

Ibu adalah madrasah peradaban. Ibulah permulaan madrasah sebelum madrasah lainnya.

Napoleon Bonaparte pernah ditanya; "Benteng apakah di Perancis yang paling kuat?"

Jawabnya; ”Para ibu yang baik.”

Penulis dengan multitafsir pada ketikan stanza pertama ini; dari gurulah segala ilmu bermula, dari ketidak ketahuan menjadi tahu. Dari jahil menjadi alim. Guru adalah pewaris ilmu dan pewaris ilmu ialah ulama. Ulama pewaris nabi. Begitulah kedudukan ilmu, guru dan ulama adalah saling berkaitan.

Abu al-Aswad berkata: "Tiada suatu pun yang lebih mulia daripada ahli ilmu; raja-raja adalah pemimpin bagi rakyat sedangkan para ulama adalah pemimpin kepada raja."

 "... Sesungguhnya para malaikat dan penduduk langit dan bumi hinggakan semut dalam lubangnya berserta ikan bersalawat (berdoa) untuk orang-orang yang mengajar kebaikan kepada manusia.” - Hadis riwayat At-Tirmidzi (tak sempat check taraf hadis ini).

Begitulah kedudukan guru yang turut menyaingi keunggulan ibu.

Masih stanza pertama larik ketiga dan empat;

"susu ilmumu nan segar
menyembuhkan sakit kejahilanku."

Kiasan susu sebagai saluran penggambaran majas yang baik.

Susu adalah simbol kesucian. Susu dan putih adalah polos. 

Susu ibu membekalkan nutrien yang terbaik untuk bayi sebagai pelengkap dan penyempurna metabolisme tubuh. Dari susu, mengalirlah darah seorang ibu ke tubuh anak. Kerana itu, ia menyembuhkan sakit dari kejahilan, kebodohan juga alpa.

Kajian sains menunjukkan susu ibu mampu meningkatkan kecerdasan bayi dan penumbuhan sel-sel otak sehingga 10-15 kali lebih cepat berbanding susu tiruan. Susu ibu juga mengandungi Asid Docosahexanoic dan Asid Arachidonic yang berguna bagi penumbuhan sistem otak dan saraf dan ini sudah tentu tidak terdapat pada susu tiruan.

Malah Islam menggalakkan supaya setiap bayi diberikan susu ibu sejak bayi dilahirkan lagi:

"Dan ibu-ibu hendaklah menyusukan anak-anak mereka selama dua tahun genap, iaitu bagi mereka yang hendak menyempurnakan penyusuan itu" - Maksud Quran, al-Baqarah: 233

Kata Syamil Khalis :

"Kutadahi kebenaran
dari kantung perbendaharaanmu"

memberi maksud, persona (merangkap seorang anak), menerima bakti-bakti yang jujur lagi ikhlas (kebenaran) dari simpanan harta-harta perolehan si ibu, yang telah diusahakan oleh si ibu dengan keringatnya sendiri sehingga digelar pemilikan peribadi.

Ayat ini mengisahkan betapa si ibu tidak pernah mengira apakah harta miliknya menjadi berkurang atau tidak demi membesarkan seorang anak.

Dalam wajah yang lain, ayat ini bertanya kepada pembaca, apakah si anak sudi dan mampu membalas kepada ibunya, yang cuma seorang, hal sedemikian juga? 

"Susu ilmumu nan segar
menyembuhkan sakit kejahilanku"

bermaksud, antara perbendaharaan yang diterima oleh persona adalah ilmu, yang telah dihadirkan dalam bentuk metafora susu, demi memaksudkan, sebuah jasa dalam bentuk material yang dapat diukur, bahawa benar adanya perpindahan sesuatu manfaat dari si ibu kepada si anak, sehingga menyembuhkan antara kekurangan diri di barisan pertama yang perlu diuruskan, iaitu kejahilan. 

C) RESENSI RANGKAP KEDUA

Aku bocah kegelapan
dikau kendong dan menyuap
aku tenang dalam dakap
dan membesar, dihidupkan.

A-ku bo-cah ke-ge-la-pan [8]
di-kau ken-dong dan me-nyu-ap [8]
a-ku te-nang da-lam da-kap [8]
dan mem-be-sar, di-hi-dup-kan [8]

Kata Bintang Kartika :

Menelusuri stanza kedua, amanat yang ingin disampaikan, bahawa ibu mengasuh penuh sabar dapat dilihat dari:

"Aku bocah kegelapan
dikau kendong dan menyuap
aku tenang dalam dakap
dan membesar, dihidupkan."

"Bocah kegelapan"  sebagai simbol kecil, muda, tiada pengalaman, berjiwa labil, mengharap bimbingan dan kasih sayang kerana pengalaman seorang bocah hanyalah seperti; cuma meneguk seteguk susu dari kantung ibu.

"dikau kendong dan menyuap, (hingga) dan membesar dihidupkan"

Inilah ibu, inilah guru.

Tanpa diminta, tanpa upah malah dengan rela ia memberi makan pakai, merawat, mengasuh, mengajar agar anak dapat membesar hidup sihat di matanya.

Dan dia adalah guru pertama mengajar anak tersenyum ketika menangis ketakutan. Memberi anak kenyang ketika kelaparan. Mengajar anak bercakap, ketika mengeja alam. Mengajar anak berjalan ketika terjatuh. Duh! Tiada kata-kata yang dapat dimaknakan lebih luhur dari segala kasih dari dada ibu.

Kata Syamil Khalis :

"Aku bocah kegelapan
dikau kendong dan menyuap"

bermaksud, persona mentakrifkan dirinya sebagai pengembala (bocah) yang berada dalam kegelapan, iaitu suatu hal keadaan tanpa adanya kehadiran cahaya.

Perkataan pengembala memberi maksud adanya usaha persona untuk belajar memahami dunia (berdikari) demi survivaliti atas dasar usaha dan tawakkal, tetapi usaha itu hanya temui jalan buntu (bocah kegelapan).

Apabila berada di dalam kegelapan, cuma ada dua kemungkinan: sama ada dapatkan cahaya atau selamanya tidak jumpa jalan untuk memahami dunia (bagaimana ingin mengembala/mendapatkan bekalan/berdikari).

Cahaya yang dimaksudkan oleh persona di sini adalah ibunya (dikau kendong dan menyuap), yang bertugas mencerahkan dan memberi sumber yang diperlukan sebelum persona boleh berdikari. 

"aku tenang dalam dakap
dan membesar, dihidupkan"

baris ini mengingatkan kita bahawa setinggi-tinggi apa yang seseorang manusia bisa capai dan peroleh (kembala) suatu hari nanti, semuanya bermula dari ajaran dan teduhan kasih seorang insan yang bernama ibu.

D) RESENSI RANGKAP KETIGA [rahsia dihuraikan di sini bagi resensi Syamil Khalis :)]

Dikau guru, dikaulah ibu
rahimmu sabar mengandungkan
pucuk muda ribuan nama
yang bertumbuh, menuai nusa.

Di-kau gu-ru, di-kau-lah i-bu [9]
ra-him-mu sa-bar me-ngan-dung-kan [9]
pu-cuk mu-da ri-bu-an na-ma [9]
yang ber-tum-buh, me-nu-ai nu-sa. [9]

Kata Bintang Kartika :

Di stanza ketiga;

"Dikau guru, dikaulah ibu
rahimmu sabar mengandungkan
pucuk muda ribuan nama
yang bertumbuh, menuai nusa."

Pada larik pertama penulis membuat persamaan antara guru dan ibu.

Kembali memahami judulnya. Guruku ibuku juga ibuku guruku; keduanya bertaut dan berkait.

Kerana ibu adalah guru dan guru juga dihormati seperti ibu. 

“Bukan umatku sesiapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, tidak kasihan kepada orang yang lebih muda dan tidak menunaikan hak guru-guru.” – Riwayat Ahmad, At-Thabrani dan Al-Hakim.

 Pada larik kedua stanza ke tiga ini, sesuai sekali kita dihidang dengan maksud firman Allah ini: 

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyusuinya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." - Maksud Quran: Luqman: 14

Bait ketiga ini juga menggambarkan suasana penghormatan dari buah kesabaran ibu yang mengasuh di bait dua tadi.

Sebuah puji-pujian dari bocah yang kini telah pandai dapat dilihat:

"pucuk muda ribuan nama
yang bertumbuh, menuai nusa."

Manis sekali pujiannya. Metafora ribuan nama, memunculkan tafsir si ibu ini adalah sebenarnya guru. Dikuatkan oleh nusa. Dengan erti kata lain, manusia membiak dari rahim ibu. 

Kata Syamil Khalis :

"Dikau guru, dikaulah ibu"

memberi erti, jasa seorang guru, telah disamakan dengan jasa seorang ibu, seperti yang diceritakan di atas tadi, berkenaan jasa seorang ibu.

Persamaan (simile) itu tidak terhenti kepada kaedah langsung sebegitu sahaja, tetapi teknik itu juga dapat diperhatikan dari sudut bahasa, iaitu penggunaan kata dikau. 

Menurut Kamus Dewan, perkataan "dikau" bermaksud engkau atau kamu. Perkataan itu digunakan jika perkataan sebelumnya berakhirkan huruf n.

Perkataan dikau telah digunakan sebanyak 3 kali dalam puisi itu, di mana sebanyak 2 kali, kata itu digunakan pada tempatnya (menepati kaedah penggunaan).

Contoh :
  • aku bocah kegelapaN Dikau kendong dan menyuap
  • dan membesar, dihidupkaN Dikau guru...
Penggunaan dikau yang pertama menepati syarat kerana perkataan sebelum berakhir dengan huruf n, iaitu, “Aku bocah kegelapan (n)”.

Lebihan penggunaan kata itu, yang tidak digunakan pada tempatnya berjumlah sekali, iaitu dapat dilihat pada baris, “Dikau guru, dikaulah ibu”.

Inilah kaedah menyamakan (simile) secara tidak langsung iaitu memaksudkan bahawa guru dan ibu adalah sesuatu yang sama, sehingga sistem bahasa yang digunakan untuk kedua-dua perkataan itu adalah sama, iaitu disandarkan penggunaan dikau pada huruf akhir n dari perkataan kegelapan, seolah-olah kedua-dua perkataan itu berjumlah tunggal dan tidak terpisah.

Teknik simile dalam menyamakan peranan seorang ibu dan guru itu justeru menimbulkan tanda tanya, mengapa?

"rahimmu sabar mengandungkan, pucuk muda ribuan nama, yang bertumbuh, menuai nusa."

baris ini menjawab persoalan yang telah ditimbulkan di atas, tentang persamaan guru dan ibu.

Seperti seorang ibu, guru juga telah menempatkan anak-anak muridnya di dalam rahimnya (perlambangan kepada latar tempat & latar masa berlakunya pendidikan), di mana rahim itu telah memberikan zat makanan (nutrient) kepada anak-anak murid persis keadaannya seperti janin yang mendapatkan zat makanan dari ibunya ketika berada dalam kandungan.

Si guru, begitu sabar mengandungkan, anak-anak muridnya ketika mereka masih berada di fasa pucuk muda, dalam kuantiti yang tidak dapat dihitungkan (ribuan nama), demi memberi maksud kesabaran tinggi seorang guru.

Anak-anak muridnya itu nanti, setelah cukup tempohnya, akan dilahirkan, lalu membesar (bertumbuh) dan sambung menyebarkan jasa kepada tanah airnya (menuai nusa). 

E) RESENSI RANGKAP KEEMPAT

Seorang ibu melahirkan ibu
tak bisa berhenti
menyambung bakti.

Se-o-rang i-bu me-la-hir-kan i-bu [11]
tak bi-sa ber-hen-ti me-nyam-bung bak-ti. [11]

Kata Bintang Kartika :

Stanza ke-empat:

"Seorang ibu melahirkan ibu
tak bisa berhenti
menyambung bakti." 

Di sini penyair mulai mengunci makna.

Seorang ibu melahirkan ibu. (padahal, boleh saja seorang ayah, bukan?)

Ini menimbulkan efek tafsir yang luas. Boleh juga sebagai penghormatan tertinggi kepada ibu, hingga ayah disingkirkan.

Yang sesungguhnya penulis ingin menekankan betapa ibu takkan lenyap, terus tumbuh dan tumbuh dari rahim ibu. Kerana kita tak terlahir dari batu.

Kata Syamil Khalis :

"Seorang ibu melahirkan ibu, tak bisa berhenti menyambung bakti" memberi maksud, perulangan kisah seorang ibu melahirkan ibu.

Yang difahami di sini adalah, istilah ibu telah diluaskan dari sekadar seorang manusia yang melahirkan rantaian manusia atas dasar genetik, kepada seorang manusia yang membekalkan sumbangan kepada manusia lain atas dasar ilmu dan bakti, dalam melakukan hal yang sama, iaitu rantaian manusia.

Rantaian yang terhasil itu tidak akan bisa berhenti pusingannya, kerana akan selalu wujud ibu selepas ibu.

F) PENUTUP RESENSI BINTANG KARTIKA & SYAMIL KHALIS

Bintang Kartika menyimpulkan :

Kesimpulan,
Puisi ini terasa cukup baik di dalam amanat dan struktur kata-kata yang dipilih. Sederhana, namun dalam maknanya.

Hanya saja, secara tipografi, stanza akhir yang hanya tiga larik, kurang sedap dipandang (mengapa tidak empat larik?)

Dalam menafsir karya, kebebasan menafsir haruslah berada dalam pasungan.

Tafsiran yang tidak melompat dari koridor bahasannya. Sebebas apapun tetap pada areanya ketika mengapresiasi apa yang tersirat pada apa-apa yang tersurat. Kerana (entah siapa yang memulakan kata-kata ini) ketika karya lahir maka pengarangnya (sang tuhan) telah mati.

Demikianlah sekadar apresiasi sederhana untuk puisi ini. Salam hari ibu, salam hari guru. 

Lia, 2014

Syamil Khalis menoktahkan :

Sekian sahaja, resensi ringkas dari insan yang tidak mahir selok belok penggunaan instrumen puisi.

Terdapat kemungkinan bahawa resensi ini tidak menggunakan terma yang tepat dalam membicarakan kerangka puisi, namun dalam masa yang sama, saya ingin menyampaikan sebuah mesej bahawa sesiapa sahaja boleh bermain-main di daerah puisi ini dengan syarat mahu luangkan masa untuk berfikir dan bahawa puisi berdaya menyampaikan mesejnya dalam mediumnya yang tersendiri.

Justeru, saya ingin mengajak sekalian pembaca untuk sama-sama memandang-toleh antara khazanah yang telah diwariskan kepada kita ini dengan pandangan kasih yang mendalam.

*Alhamdulillah, saya ingin mengucapkan penghargaan tidak terhingga kepada Saudari Bintang Kartika, Saudara Syamil Khalis dan Saudara Rasydan Fitri atas segala resensisi yang begitu rinci yang telah diberikan.

Jazakumullahukhairankasira wa baarakallahufikum ajma'in!

Bersama Menyemarakkan Sastera
 Demi Ketamadunan Sejagatan Insan. 

:) 

Ikhlas,
Za'im Yusoff

Wednesday, June 4, 2014

ULASAN FILEM ABANG LONG FADIL (2014) – MEMBEDIL STRATA SANG ZALIM



“Gua tak faham kenapa lu mati-mati 
pertahankan kampung ni.
Lu dah la tak ada tanah kat sini.
Tapi gua respek sama lu.
Masih ada orang tua Melayu yang berani 
mempertahankan hak dan kebenaran.”

Ketika Shark, watak Syamsul Yusof dalam filem terbaru arahan adiknya, Syafiq Yusof yang baru berumur awal 20-an itu menghamburkan kata-kata ini, ingatan aku telah diterbangkan ke sosok-sosok tubuh semisal Tuan Guru Nik Aziz, Tuan Guru Haji Hadi, Lim Kit Siang mahupun Mendiang Karpal Singh ketika zaman muda mereka. 

Ya, ia suatu yang pelik pada ketika itu untuk menentang pihak establishment di saat Barisan Nasional dipertontonkan begitu sempurna di dada-dada media semisal watak “Tuhan” Wilford dalam Snowpiercer (2014) [KLIK ULASAN SAYA] di mana tanpa Mr. Wilford, satu umat manusia yang masih tinggal akan kebekuan mati.

Tambah memelikkan, sosok-sosok ini menentang kezaliman sejak berdekad-dekad lamanya tetapi tidak mempunyai kepentingan peribadi semisal watak Haron lakonan Harun Salim Bachik yang tidak mempunyai tanah di Kampung Berani, cuma sekadar menumpang di rumah adiknya dengan hanya membuka kedai roti canai di kampung (baca : Kampung Baru) itu. 

Namun, Haronlah satu-satunya insan dalam kalangan golongan veteran, meskipun lemah tetapi dia menggagahkan diri dengan sedaya upaya membeliakkan mata masyarakatnya terhadap hak mereka yang dirampas jerung-jerung kapitalis merangkap politikus yang menikus di belakang samseng-samseng umpama pucuk leban gading gajah, bekerja segan makannya gagah.

Tamsilan Kampung Berani dalam filem Abang Long Fadil (2014) ini ternyata berjaya mewakili nasib malang bukan sekadar Kampung Baru tetapi juga Kampung Chubadak, Kampung Bandar Dalam, Kampung Hj Abdullah Hukum dan Kampung Padang Balang di ibu kota selain Kampung Batu Uban dan Kampung Tanjong Tokong di Pulau Mutiara - yang menerima nasib yang serupa dalam lipatan sejarah tanah air.

Hal ini mengingatkan aku pada larik-larik Bonda Zurinah Hassan, menerusi puisi "Cerita Rumah Kami" dalam Antalogi Cerita Dalam Cerita pada rintik rayu akhir yang bernada melankolik sambil menjentik-jentik kita -

.....

Dan ketika aku dewasa
semua kediaman berbatu bata
dengan penyaman udara
banglo besar, deret atau berkembar
tetapi semestinya lebih selesa
dari generasi ke generasi
manusia mendaki ke taraf tinggi
kata Darwin dalam teori evolusi
sepatutnya begitu selepas aku
tetapi anakku
naik ke apartmen bertingkat-tingkat
cucu-cicitku bagaimana pula
bila harga rumah terus meningkat
dan tanah sudah terhad?

Maka kami pun berdoa,
Ya Allah kurniakan kami
pemerintah yang berhemah
agar bangsaku tidak menjadi
bangsa tidak berumah.

M/S 3-4, Cerita Dalam Cerita, Zurinah Hassan (2014), ITBM


Filem Abang Long Fadil Mula Tayang 29 Mei, Bukti Zizan Razak Lebih Popular Daripada Aaron Aziz

SEIMBANG ANTARA KRITIKAN DAN KEHENDAK PASARAN

Sesuatu yang mahal dalam penghasilan filem ini ialah keupayaan Syafiq Yusof menyeimbangkan antara kritikan dengan kehendak pasaran. 

Di negara antah berantah ini, terkadang seorang pengarah terlalu mahu menjulang kritikan hingga buta pasaran. Kritikannya maha dalam, tetapi wajahnya suram. Tersekat di zaman putung berasap. 

Di pojok yang lain pula, seorang pengarah terlalu mahu berhias dengan segala macam tatarias, sehinggakan isinya kosong lagi kohong. Sampah. 

Dan di negara antah berantah ini, pusaran itu masih sama. Antara terlalu mengejar pasaran dengan mengorbankan pemikiran. Juga, terlalu menghambat pemikiran dengan membunuh citarasa pasaran. Akhirnya karam, terkubur tanpa nisan.

Tetapi Syafiq Yusof, anak muda - gen-Y menyangkal hal ini. Beliau tahu citarasa anak muda (lebih tepat rakyat Malaysia marcapada). Sebab itu, malam sebelum tayangan rasmi, panggung penuh dan hampir muntah. CGI yang tidaklah sempurna tetapi tidaklah nampak cacat, elemen Kung Fu Hustle (2004) Stephen Chow yang wow - kau berjaya salin produksikannya hampir sempurna - merupakan eksploitasi teknik-teknik terkini yang bisa memikat anak-anak Malaysia yang tak berapa nak ada jati diri itu ke panggung. 

CERITA KETAT

Antara lain yang aku gemar dan tepuk tangan ialah ceritanya yang ketat. Yang aku maksudkan dengan ketat ialah tidak ada plot yang terbazir dan semuanya punya makna dan sebab yang kuat - kenapa aku kena syot macam ini, kenapa kena ada plot yang ini. 

Misalnya, ketika ayah si Adam (Kamal Hadi - aku tak pernah perasan kau walaupun aku tahu kau terkenal di TV, sehinggalah aku lihat kau dalam filem ini - lakonan kau indah, wallah!) mati terbakar, cara yang sama Kimar dibakar. 

Ini ialah karma - pembalasan makar. 

What goes around, comes around. 

Malah, keterbalikan nama Karim (yang bermaksud mulia - sebagaimana Karim memang mulia sebelum nafsunya meraja) kepada nama Kimar sesuatu yang sesuatu. Ini indah - kerana apabila sesuatu huruf dikasrahkan dalam Bahasa Arab yang mana asalnya difathahkan atau didhommahkan (baca : i'rab); selalunya ia bersifat menghina. 

Contohnya, hanya ada satu tempat dalam al-Qur'an di mana Allah Ta'ala tidak memanggil Bani Israel sebagai Bani Israel sebaliknya Banu Israil kerana di tempat di mana Allah Ta'ala memanggil kaum itu dengan Bani Israel dengan maksud Allah Ta'ala menghina mereka sebaliknya ketika Allah Ta'ala memanggil dengan nama Banu Israel - itu di saat mereka benar-benar beriman tanpa sebarang syak wasangka kepadaNya. 

Samalah - cuma yang beza, Karim tidak ku lihat sebagai Kurim tetapi sebagai makna asal Karim yakni mulia. Dan Kimar sebagai panggilan sesuatu yang hina - setelah dia memilih untuk menjadi keji. Lihatlah sendiri dalam filem ini.



Kehadiran pelakon-pelakon dewasa (nak cakap veteran, macam masih muda) semisal A. Galak (Sarjan Misai), Arman Graseka dan watak Karim/Kimar (maaf, pak cik - tak tau nama; dah google tak jumpa sob sob) - seakan memberitahu bahawa gandingan lama dan baru masih perlu; tinggal lagi ramuannya harus padu dan seru. 

Masih banyak lagi aku mahu tulis, namun kebanyakannya sudah dinukil cantik oleh Kekandaku Abang Fadz di sini [KLIK] dan tidak perlulah aku mengulanginya. Secara keseluruhan ini kataku -

"#AbangLongFadil satu karya ketat yang berjaya keluar dari kebodohan filem lokal masani ke kebijaksanaan yang memucrat.

Elemen realisme dan surreal yang mengarus diriakkan dengan kritik sosial (juga subtle politics) dan kritik sinema yang menggugah pelbagai strata insan yang bangkit dari kecut perut ke berani hidup, berani mati (agi idup agi ngelaban) memukul generasi hari ini untuk berani membuat perubahan dengan cakna pada permainan semasa hatta dalam industri layar perak dunia di mana Kung Fu Hustle versi Malaysia ini berjaya menjulang dengan cemerlang. 


Aku puas. 


Untuk awam yang kurang bisa gali subteks, mungkin 8/10.


Tetapi bagi ku, peribadi - 10/10.


Tahniah. Teruskan mengaum, Tuan Sutradara Muda!"


Ketika aku meletakkan rating sebegini, Kekandaku Abang Fadz menyoal - 8/10 itu terlalu tinggi buat saya. 

Ini sedikit menempelak. 

Namun, terusku membalas.

"Mungkin saya terlebih eksaited (baca : bangga) lantaran melihatkan perak 
di kalangan timah yang disangkakan emas."

Ya - umpama sepuluh orang budak di kawasan pendalaman Sarawak memperoleh 9A Plus dalam SPM; pastinya berita itu lebih gegar berbanding seratus orang budak peroleh keputusan yang sama di Kuala Lumpur.

Apapun, Syafiq Yusof punya kelas tersendiri. Dia perlu terus mendaki. 
Barangsiapa menghalangnya, ternyatalah mereka keji dan busuk hati.

Sekian, aku memeri.

*Maaf, patutnya aku langsaikan ulasan ini usai tontonan. Tetapi, kerja masyaAllah terlebih kuat mengejar. Dan ulasan ini tersadai setelah seminggu menonton. Maaf, andai kurang rencah resipi seperti selalu. Huhu.

Sebarkan Manfaatnya! :)